Pergolakan Filsafat Islam (2)

Ibnu Sina dengan idenya yang khas yang berusaha memadukan antara wahyu dan filsafat, kemudian ia juga berusaha menjabarkan ataupun memaparkan serta membuktikan terkait dengan konsep-konsep kenabian yakni dengan mengatakan bahwa kenabian adalah suatu hal yang dianggap lumrah yang dapat diterima dan dipahami secara akal. Dalam pandangan Ibnu Sina kenabian merupakan tingkat tertinggi dalam fase kemanuisaan dalam menghimpun suatu potensi pada taraf yang paling sempurna. Menurtunya untuk menempuh tingkat tertinggi tersebut ia mensyaratkan dalam tiga hal: kecerdasan intelektual, kesempurnaan imajinasi, dan kemampuan mengendalikan hal-hal yang berasal dari luar dirinya untuk tunduk dan taat. Ketika ketiganya tersebut telah diperoleh maka akan muncul kesadaran kenabian dan mendapatkan keterbukaan segudang pengetahuan secara langsung tanpa bantuan orang lain. Atas prestasi yang dicapainya, Ibnu Sina kemudian memperoleh gelar “Guru Utama”, selain gelarnya sebagai “Pangeran Para Dokter” karena jasa-jasanya dalam bidang kedokteran.

Namun periode setelah Ibnu Sina, filsafat mengalami fase kemunduran karena serangan Al-Ghazali (1058-1111 M) dengan karya yang menggemparkan “Tahafut al-Falasifa” dalam karya ini al-Ghazali merinci pokok persoalan filsafat kedalam 20 bagian, tiga diantaranya dapat mengantarkan pada tingkat kekufuran, yaitu masalah keqadiman alam, kebangkitan ruhani, dan ketidaktahuan Tuhan tergadap hal-hal yang partikular. Dalam penyerangan ini Al-Ghazali juga menyeret nama Al-Farabi dan Ibnu Sina. Namun dalam serangan terhadap filsafat tersebut lepas dari pengaruh dan jasanya yang begitu besar da nada beberapa hal yang harus dicermati. Pertama, Al-Ghazali sesungguhnya bukanlah menyerang filsafat secara keaeluruhan akan tetapi hanya pada bagian metafisika, yakni dalam pemikiran metafisika Al-Faribi dan Ibnu Sina yang neo-platonis. Sebab pada bagian-bagian yang lain Al-Ghazali tetap mengakui betapa pentingnya logika dan epistemologi, yang hal ini merupakan inti dari filsafat sendiri, yakni sebagai upaya pemahaman dan penjabaran ajaran-ajaran keagamaan. Bahkan Al-Ghazali dalam al-Mustasfha fi ‘Ulum al-Fiqh, sebuah kitab tentang kajian hukum, bahkan juga menggunakan epistemology filsafat, yaitu burhani, dengan tujuan untuk membumikan gagasannya tentang hukum.

Tentang tuduhan Al-Ghazali terhadap tiga persoalan yang dianggapnya dapat menyebabkan kekufuran teresbut sepenuhnya kurang tepat, sebab disini telah terjadi kesalahpahaman pendefinisian istilah-istilah yang digunakan antara filsuf dengan Al-Ghazali yang posisinya sebagai seorang teolog. Semisal tentang masalah alam itu qadim, alam qadim adalah karena alam tidak muncul dalam waktu tertentu, sebab apa yang disebut sebagai waktu atau zaman itu munculnya bersamaan dengan munculnya alam. Tak ada istilah waktu atau zaman sebelum munculnya alam. Jadi kebersamaan alam dengan waktu atau tidak didahuluinya alam dengan waktu tertentu inilah yang disebut sebagai qadim oleh para filsuf, dan keqadiman alam itu tidak sama dengan keqadiman Tuhan, karena Tuhan sendiri itu qadim dengan diriNYa sendiri tanpa bebarengan dengan ruang dan waktu. Sedangkan alam itu hanya berkaitan dengan waktu ataupun zaman sehingga keqadiman ini sifatnya temporal (hadits) berbeda jika dibandingkan dengan Tuhan.

Selanjutnya tuduhan yang dilancrkan Al-Ghazali terhadap Al-Farabi dan Ibnu Sina yang berkaitan dengan Aristoteles. Dalam kitab Al-Munqidz Al-Ghazali membagi pemikiran filsafat (Yunani) kedalam tiga bagian: materialisme, naturalisme, dan teisme. Kelompok materialism adalah kelompok yang mengingkari Sang Pencipta, serta beranggapan bahwa alam semesta itu wujud dengan sendirinya, dan golongan ini dianggap sebagai ateis atau tidak beragama. Hal semacam ini di tujukan pada filsuf Yunani kuno seperti Thales (625-546 SM), Anaximander (611-547 SM), Anaximenes (570-500 SM), dan Heraclitos (540-480 SM) yang dalam pandangannya bahwa alam semesta itu tersusun atas unsur alam itu sendiri yakni air, udara, api, dan tanah, bukan oleh sang pencipta. Kemudian golongan naturalism adalah mereka yang meyakini kekuatan material dan bahwa apa yang telah mati tidak akan dapat kembali sehingga tidak mungkin ada hari kebangkitan ataupun hari pembalasan. Hal semacam ini tampaknya ditujukan pada tokoh filsuf Yunani kuno Democritus (460-370 SM) dan para filsuf lonia yang hanya meyakini eksistensi material.

Kelompok teisme adalah para filsuf yang meyakini adanya Sang Pencipta seperti Socrates (469-399 SM), Plato (427-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM), dan termasuk juga Al-Farabi dan Ibnu Sina dari kalangan Muslim sendiri. Dan tuduhan terhadap kedua tokoh Muslim tersebut tidak semuanya tepat. Memang benar bahwa Al-Farabi banyak mengkaji dan mengembangkan pemikiran Aristoteles tetapi ia bukanlah pengikut yang setia. Pemikiran metafisikanya yang di anggap menyimpang oleh Al-Ghazali buikanlah uraian atau hal yang dikremnbangkan dari filsafat Aristoteles, tetapi berasal dari ajaran neo-platonisme yang di bangun oleh Plotinus (205-270 M). hal ini yang kemudian di kritik oleh Ibnu Rusyd (1126-1198 M) bahwa Al-Farabi telah menyimpang dari ajaran Aristoteles.

Menurut Nur Kholis Majid (1939-2005 M) kurang tepat klasifikasi atau penilaian Al-Ghazali tersebut bisa saja karena kurang cermatnya Al-Ghazali sendiri dalam menilai, ataupun juga karena kesalahan umum pada masa itu. Yaitu pengkajian para terhadap Aristoteles tidak dilakukan secara langsung melalui karyanya sendiri melainkan melalui penafsiran neo-platonisme sehingga apa yang diduga sebagai pemikiran Aristoteles sebenarnya telah tercampur oleh ide-ide neo-platonisme. Sedangkan kebesaran Al-Ghazali sebagai Hujjatul Islam telah berhasil menggerakkan kesadaran umat Muslim sehingga tanpa mengkaji kembali persoalan-persoalan tersebut secara teliti dan mereka ikut menyatakan perang dan anti terhadap filsafat.

Pemikiran filsafat selanjutnya muncul kembali dalam kancah pemikiran Islam pada masa Ibnu Rusyd (1126-1198 M) melalui karyanya “Tahafut al-Tahafut” Ibnu Rusyd berusaha mengangkat kembali pasca penyerangan Al-Ghazali, namun usaha ini kurang berhasil karena bantahan Ibnu Rusyd sifatnya Aristotelian sementara serangan Al-Ghazali bersifat neo-platonis. Meskipun demikian atas kegagalannya Ibnu Rusyd dalam membendung serangan Al-Ghazali, ia telah berjasa dalam perkembangan pemikiran filsafat.

Dalam bidang metafisika Ibn Rusyd memberikan wawasan baru pada taraf hubungan antara Tuhan dengan alam, bukan melalui teori emanasi seperti Al-farabi dan Ibnu Sina tetapi melalui teori gerak. Bahwa menurutnya berdasarkan teori Aristoteles bahwa semua benda itu pada prinsipnya diam, tetapi kenyataannya bergerak. Dan gerakan benda tersebut pastinya disebabkan oleh penggerak yang berasal dari luar dirinya sendiri, karena dirinya sendiri tidak mampu bergerak. Penggerak luar yang menggerakan suatu benda juga butuh penggerak lain di luar dirinya sendiri sehingga dia mampu menggerakkan benda lainnya. Dan seterusnya hingga penggerak akhir yang tidak bergerak. Itulah yang dalam Islam disebut Allah SWT Tuhan Sang Penggerak alam raya.

pergolakan Filsafat Islam (1)

Tradisi ilmiah ke Islam sejak permulaan menempuh dua jalan yang berbeda. Pertama, melalui jalan salaf sebagaimana yang paling banyak di anut dianut oleh mayoritas muslim di belahan manapun. Suatu cara pandang yang mengarah pada pembangunan dan pengembangan ilmu bayani, seperti filologi sejarah dan llmu fiqh. Kedua, jalan non-salaf, sebab jalan ini telah dipengaruhi ataupun terpengaruh oleh kebudayaan Yunani, Syiria, dan Persia. Jalan ini cenderung condong kepada suatu pengembangan bidang ilmu seperti filsafat, matematika, astronomi, astrologi, fisika, dan lain sebagainya.

Ke-dua tradisi seperti ini masih dapat berkembang secara seimbang pada saat masa kekuasaan Bani Umayyah sampai masa Bani Abasiah awal. Dalam bidang salaf memunculkan tokoh seperti Abu Hanifah (699-767 M), Malik (716-796 M), As-Syafi’i (767-820 M), dan Ibn Hanbal (780-855 M). sedangkan jalur keilmuan melalui non-salaf telah melahirkan tokoh seperti Ibn Hayyan &21-815 M) dalam bidang kimia, Al-Khwarizmi (780-850 M) dalam bidang matematika. Namun seiring pergantian kekuasaan, sejak masa kekuasaan Al-Makmun (813-833 M) melakukan usaha penerjemahan secara besar-besaran terhadap buku ilmiah dan filsafat, sehingga jalan tradisi keilmuan yang kedua ini menjadi lebih dominan dibandingkan dengan jalur salaf. Ilmu pengetahuan dan filsafat yang mendapat transformasi baru dari alam pikir Yunani mengalami perkembangan yang luar biasa dan mencapai titik ketinggian yang belum pernah terjadi pada masa sebelumnya.

Tradisi filsafat dalam Islam mengalami perkembangan pertama kali diperkenalkan oleh Al-Kindi (806-875 M). dalam bukunya al-Falsafah al-Ula yang dipersembahkan kepada khalifah Al-Mu’tasim (833-842 M), Al-Kindi menulis tentang objek kajian dan kedudukan filsafat. Namun hal ini tidak begitu popular karena masih minimnya referensi filsafat yang telah diterjemahkan dan juga masih dominannya kaum fuqoha pada masa itu. Meskipun demikian Al-Kindi telah menawarkan dan memunculkan tradisi baru dalam pemikiran Islam dan mewariskan persoalan-persoalan tersebut hingga sekarang ini. Di antaranya tentang penciptaan semesta, terkait bagaimana prosesnya, kebadian jiwa (bagaimana pembuktiannya), pengetahuan Tuhan teradap yang particular, terkait bagaimana penjelasan dan apakah ada hubungannya dengan bintang-bintang yang saat itu menjadi kajian penting metafisika.

Sepeninggalan Al-Kindi perkembangan rasionalitas filsafat menjadi semakin berkembang, kemudian lahirlah Al-Razi (865-925 M) seorang tokoh yang dikenal sebagai ekstrimis dalam teologi dan dikenal juga sebagai rasionalis murni yang hanya mempercayai akal. Salah satu buah pemikirannya yang terkenal ialah pandangannya tentang akal. Hakikat manusia adalah akal, dan akal pula satu-satunya alat yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan tentang dunia fisik, tentang baik dan buruk. Bahwa sumber pengetahuan selain akal hanyalah omong kosong.

Dalam sejarah tercatat bahwa perkembangan filsafat yang begitu pesat terjadi atas dukungan khalifah masa Bani Abbasiah (750-1258 M) khususnya pada masa Al-Ma’mun (811-833 M), selanjutnya pada masa Al-Mutawakil (847-861 M) sedikit mengalami hambatan. Hambatan ini terjadi karena adanya pertentangan para kalangan salaf seperti Ibn Hanbal (salah satu imam madzhab empat), dan juga orang-orang yang sepemahaman dengannya. Mereka beragumentasi tanpa kompromi terhadap filsafat. Dari beberapa sumber menyatakan bahwa pertentangan kaum salaf disebabkan beberapa hal:
Pertama, ketakutan para salaf bahwa adanya filsafat dapat menyebabkan berkurangnya rasa hormat para muslim terhadap Islam sendiri.

Kedua, adanya pernyataan bahwa mayoritas dari mereka yang menerjemahkan ataupun mempelajari filsafat Yunani adalah dari kalangan non-muslim, seperti penganut Manicheanisme, orang-orang Sabia, dan sarjana muslim penganut mazhab Batiniyah yang esoteris. Hal itu semua telah memunculkan kecurigaan atas segala aktivitas intrelektual dan perenungan yang, mereka lakukan.

Ketiga, bertujuan untuk menyelamatkan ataupun melindungi kaum muslim dari pengaruh Manicheanisme Persia khususnya dan paham lain yang dinilai tidak sejalan dengan ajaran-ajaran Islam yang ditimbulkan dari pemikiran filosofis.
Kecurigaan kaum salaf nyatanya terbukti, yakni dengan adanya tokoh-tokoh yang tak terbilang sedikit, yang belajar filsafat namun akhirnya menyerang dan meragukan ajaran Islam itu sendiri. Salah satunya Ibn Rawandi(827-911 M) yang menolak konsep kenabian setelah belajar filsafat. Menurutnya bahwa konsep kenabian itu bertentangan dengan akal sehat, begitu dengan syariat-syariat yang dibawanya, karena semua itu telah mampu dicapai melalui akal. Akal mampu mencapai dan membedakan mana benar-salah baik dan jahat, begitu seterusnya.

Selanjutnya Al-Razi juga menolak kenabian dengan tiga alasan:

Pertama, bahwa akal juga telah , mampu membedakan baik dan buruk, berguna dan tidak berguna. Dengan akal manusia mampu mengenal Tuhan dan mampu mengatur kehidupannya sendiri dengan baik, sehingga tidak perlu lagi adanya seorang nabi.

Kedua, tidak adanya pembenaran ataupun pengistimewaan seseorang untuk membimbing orang yang lain, karena setiap orang lahir dalam keadaan memiliki kecerdasan yang sama, hanya saja dibedakan oleh pendidikan dan pengembangan mereka masing-masing.

Ketiga, menyatakan bahwa ajaran tiap nabi itu berbeda-beda. Dan seharusnya jika ia memang berbicara atas nama Tuhan seharusnya tidak ada suatu perbedaan di antara mereka.

Usaha penentangan para kaum salaf terhadap tradisi filsafat mencapai pada puncaknya dan menuai keberhasilan pada masa khalifah Al-Mutawakil. Munculnya khalifah dengan kebijakan yang condong kepada kaum salaf menyebabkan tradisi pemikiran filsafat terhambat. Para kaum salaf yang memiliki kedekatan dengan khalifah dan juga memiliki jabatan kekuasaan, mereka melakukan revolusi dengan cara bahwa mereka yang berfaham filsafat ataupun ahli filsafat dan orang-orang Mu’tazilah yang tidak sepaham dengan mereka akhirnya dipecat dan diganti dari kalangan salaf sendiri. Salah satu di antaranya ialah Al-Kindi seorang ahli filsafat yang dipecat dari jabatannya sebagai guru istana karena tidak sepaham dengan khalifah yang salaf.

Meskipun demikian dapat dicermati bahwa hambatan tersebut hanyalah terjadi pada lingkarang kekuasaan di Baghdad. Sedangkan diluarnya tradisi dan kajian-kajian filsafat terus berjalan sehingga melahirkan tokoh filsuf besar yaitu Al-Farabi (870-950 M), Al-Farabi merupakan tokoh yang berpengaruh terhadap sesudahnya baik dalam Islam sendiri maupun belahan Barat. Bukan hanya mengembangkan ilmu metafisika Islam tetapi juga membangun landasan perkembangan ilmu yang lebih umum.

Al-Farabi dalam pembahasan metafisika antara lain mengembangkan teori emanasi yang menggabungkan teori neo-platonisme dengan ketauhidan Islam untuk menjelaskan hubungan antara Tuhan Yang Maha Gaib dengan realitas empirik, Tuhan Yang Esa dengan realitas plural dan seterusnya hingga mempertemukan antara konsep Plato dengan idealismenya beserta emprisismenya Aristoteles, serta mempertemukan antara agama dan filsafat. Al-farabi dalam karyanya Ihsha al-Ulum, membagi ilmu pengetahuan kedalam tiga kelompok: filsafat, ilmu keagamaan dan ilmu bahasa. Menurut Husein Nasr, klasifikasi ilmu seperti ini merupakan pengklasifikasian pertama dalam peradaban Islam yang paling berpengaruh, juga dipakai secara umum oleh kalangan ilmiah. Atas jasa inilah kemudian Al-Farabi diberi gelar sebagai guru kedua, dari tradisi filsafat Islam setelah Aristoteles.

Tradisi pemikiran Islam kemudian semakin bergema dalam pemikiran Arab-Islam pada masa Ibn Sina (980-1037 M) Ibn Sina muncul setelah Al-farabi dengan mengembangkan lebih lanjut gagasan emanasi dari Al-Farabi sendiri, yaitu menggabungkan antara Neoplatonisme Yunani, tauhid Islam, dan juga filsafat timur yang mistik dan simbol, sehingga kemudian melahirkan gagasan pemikiran yang khas.

Pada generasi selanjutnya gagasan seperti ini melahirkan tokoh Suhrawardi al-Maqtul (1153-1191 M) dengan emanasi yang lebih sempurna yang terkenal dengan filsafat Isyraqiyah. Ibnu Sina juga berusaha menggabungkan antara filsafat dengan wahyu dalam aspek makna dan fungsi. Karena menurutnya setiap aturan yang disyariatkan Islam itu memiliki hikmah dan kebaikan tertentu yang dapat mengantarkan pada terwujudnya cinta kasih (al-‘Isyq) pada keseluruhan realitas khususnya pada diri sendiri dan jiwa-jiwa tingkat tinggi.

selanjutnya Pergolakan Filsafat Islam (2)

Melawan Filsafat

Dalam keagamaan maupun akademik siapa yang tak mengenal al-Ghazali seorang sosok berpengaruh dalam tradisi intelektual keislaman. Tindakannya dalam menyerang filsafat dianggap menjadi senjata yang paling mematikan bagi para filosof muslim sendiri, hal ini tercatat dalam sepanjang sejarah peradaban Islam. Sampai waktu detik ini belum ditemukan para pemikir yang mampu menandingi dan mematahkan dari argumen-argumen Al-Ghazali terhadap filsafat melalui karyanya Tahafut al-falasifah. Karya ini merupakan argumen yang berisi fatwa-fatwa pengharaman terhadap filsafat, ia telah berhasil mengurai pemikiran para filosof muslim yang dinilai terlalu jauh keluar dari lintas garis keislaman. Sebab menurutnya mereka tidak mampu membangun argumen tentang ketuhanan.

Sebagaimana yang telah tertuliskan dalam Tahafut al-Falasifah bahwa hal yang memotivasi dalam penyerangan ini adalah karena keangkuhan dan kesombongan mereka. Mereka dianggap sebagai manusia yang merasa paling istimewa dibandingkan dengan yang lainnya. Secara tidak sadar mereka juga merasa bahwa dirinya memiliki kecerdasan yang lebih sehingga berani mengabaikan tuntutan-tuntutan syariah yang mana syariah hanyalah berlaku bagi masyarakat biasa dan mereka memiliki aturan dan cara tersendiri dalam mendekatkan diri kepada Tuhan.

Pola-pola yang diterapkan para filosof muslim menurut al-Ghazali tidak lain adalah akibat pengaruh dari pemikiran Yunani yang mereka adopsikan. Maka untuk menghancurkannya al-Ghazali terlebih dahulu harus mengkritik model pemikiran Aristoteles dimana dalam hal ini yang menjadi acuan pemikiran mereka membangun filsafat Islam. Namun tidak semuanya karya-karya Yunani mampu dijamah al-Ghazali, dan ketika ia mengalami kesulitan maka dicukupkan pada pemikiran Al-Farabi dan Ibnu Sina karena keduanya merupakan representasi pemikiran Aristoteles dan tak ada filosof muslim lainnya yang mampu memahami pemikiran Aristoteles dengan benar. Lebih dari itu mereka juga melakukan distorsi terhadap pemikiran Aristoteles, sehingga hal ini dianggap menjadi suatu hal yang tidak bisa dijadikan acuan untuk menjabarkan pemikiran Aristoteles. Dari sinilah bermula, bahwasannya al-Ghazali hanya menghancurkan pemikiran filosof tersebut dan bukan menghancurkan filsafat secara umum.

Dalam Tahafut al-Falasifah, al-Ghazali berargumen bahwa kesalahan fatal dalam filsafat ialah dalam hal teori tentang ketuhanan. Dengan begitu mjusuh utamanya adalah filsafat ketuhanan. Ia berusaha menggali butir-butir kesalahan para filosof dari sisi teori kertuhanan tersebut. Ia mendapati dua puluh poin kerancuan dalam pemikiran para filosof, yang mana tiga di antaranya dapat mengantarkan pada kekafiran sedangkan yang lainnya adalah bid’ah. Point kefatalan tersebut ada pada keabadian alam, Tuhan tidak mengetahui perincian segala apa yang ada di alam, juga pengingkaran terhadap kebangkitan jasad kelak di akhirat.

Seperti yang kita ketahui bahwa hal demikian bertentangan dengan dalil-dalil agama. Padahal sudah jelas bahwasanya Tuhan telah memaparkan dengan pasti tentang adanya kebangkitan jasad di akhirat. Bagi Tuhan, membangkitkan jasad bukanlah suatu hal yang mustahil, Tuhan adalah sang maha kehendak yang berkehendak atas segalanya.

Selanjutnya setelah mengkritisi pemikiran filsafat dalam hal ketuhanan, ia juga berusaha untuk melemahkan semua objek kajian filsafat dan ia juga tidak menghendaki untuk merekonstruksi ulang, namun ia bekeinginan menghancurkan secara total. Tujuannya adalah untuk memudarkan kepercayaan masyarakat terhadap para filosof. Dan ia samasekali tidak mengakui pencapaian positif dalam pemikiran filsafat. Ia memandang bahwa semuanya bukan murni dari pemikiran para filosof. Kontribusi positif tersebut adalah ajaran dari para nabi dan rosul serta sufi yang diadopsi para filosof. Bahkan daalam logika, al-Ghazali juga tidak mengakui pemikiran mereka. Penalaran mereka disamakan dengan pemikiran para Mutakallimin. Hal yang membedakan keduanya hanyalah terletak pada terminologi bukan menyentuk soal esensi pengetahuan.

Hadits Mutawatir

Mutawatir secara bahasa adalah bentukan isim fa’il dari at-tawatur yang artinya berurutan.

Syarat-Syarat Hadits Mutawatir:

1. Di riwayatkan oleh banyak orang
2. Para perowi hadits ditemukan dalam setiap sanad itu sama/ adanya keseimbangan ada semua tingkatan
3. Bukan seorang pendusta
4. Dalam periwayatannya langsung disandarkan pada panca inra atau berdasarkan saksi atas suatu cerita.

Hukum Hadits Mutawatir

Bahwa semua hadits mutawatir merupakan ilmu yang pasti dapat diterima tanpa adanya pembahasan dan kita harus menerimanya tanpa proses berfikir panjang atau mengkaji ulang.

Pembagian Hadits Mutawatir

1. Lafdiy adalah hadits yang beriringan dalam hal lafald bukan segi maknanya. contoh: hadis yang intinya barangsiapa berbohong kepada nabi Muhammad SAW dengan sengaja atas apa yang telah Nabi ucapkan maka tempatnya adalah neraka. (dalam redaksinya sama)

2. Maknawiy adalah hadis yang beriringan segi makna bukan lafaldnya. contoh: banyak beberapa hadits yang membicarakan tentang mengangkat tangan di dalam do’a dengan redaksi yang berbeda-beda, namun intinya dari segi makna adalah sama yaitu tentang mengangkat tangan dalam berdo’a

Wujud Hadits Mutawatir

yang meriwayatkan hadits itu banyak tetapi banyaknya berapa masih khilaf dan minimal 10.

Kitab-Kitab membahas Hadits Mutawatir

· Al-Azhar al-mutanasirotu fi al-akhbari mutawattiroti
· Qodfu al-azhar
· Nadzmu al-mutanasiri min al-hadits

Sumbe: diambil dari kitab Mustolah Hadits

KEPERCAYAAN DIRI (SELF CONFIDENCE)

A. Pengertian Kepercayaan Diri

Self-confidence atau percaya diri adalah sejauh mana adanya keyakinan terhadap penilaian atas kemampuan untuk berhasil. Ignoffo (1999) secara sederhana mendefinisikan self confidence berarti memiliki keyakinan terhadap diri sendiri. Menurut Neill, self confidence adalah kombinasi dari self esteem dan self-efficacy.

Lauster (1978), menyatakan bahwa self confidence merupakan suatu sikap atau perasaan yakin atas kemampuan diri sendiri sehingga orang yang bersangkutan tidak terlalu cemas dalam tindakan-tindakannya, dapat merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang disukainya dan bertanggung jawab atas perbuatannya, hangat dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, dapat menerima dan menghargai orang lain, memiliki dorongan untuk berprestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangannya.

Self confidence adalah sikap positif seorang individu yang merasa memiliki kompetensi atau kemampuan untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap dirinya maupun lingkungan. Self confidence adalah percaya akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki, serta dapat memanfaatkan secara tepat.

Bandura (2005) mendefinisikan self confidence sebagai suatu keyakinan seseorang yang mampu berperilaku sesuai dengan yang diharapkan dan diinginkan. Sedangkan Breneche dan Amich (Kumara, 1988) self confidence merupakan suatu perasaan cukup aman dan tahu apa yang dibutuhkan dalam kehidupannya sehingga tidak perlu membandingkan dirinya dengan orang lain dalam menentukan standar, karena ia selalu dapat menentukan sendiri.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa self confidence adalah perasaan yakin akan kemampuan diri sendiri yang mencakup penilaian dan penerimaan yang baik terhadap dirinya secara utuh, bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orang lain sehingga individu dapat diterima oleh orang lain maupun lingkungannya. Penerimaan ini meliputi penerimaan secara fisik dan psikis. Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa self confidence merupakan adanya sikap individu yakin akan kemampuannya sendiri untuk bertingkah laku sesuai dengan yang diharapkannya sebagai suatu perasaan yang yakin pada tindakannya, bertanggung jawab terhadap tindakannya dan tidak terpengaruh oleh orang lain. Orang yang memiliki kepercayaan diri mempunyai ciri-ciri: toleransi, tidak memerlukan dukungan orang lain dalam setiap mengambil keputusan atau mengerjakan tugas, selalu bersikap optimis dan dinamis, serta memiliki dorongan prestasi yang kuat.

B. Proses Terbentuknya self confidence

Menurut Hakim (2002) rasa percaya diri tidak muncul begitu saja pada diri seseorang, tetapi ada proses tertentu didalam pribadinya sehingga terjadilah pembentukan rasa percaya diri itu. Terbentuknya rasa percaya diri yang kuat terjadi melalui proses :

a. Terbentuknya kepribadian yang baik sesuai dengan proses perkembangan yang melahirkan kelebihan kelebihan tertentu.

b. Pemahaman seseorang terhadap kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dan melahirkan keyakinan kuat untuk bisa berbuat segala sesuatu dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihannya tersebut.

c. Pemahaman dan reaksi positif seseorang terhadap kelemahan-kelemahan yang dimilikinya agar tidak menimbulkan rasa rendah diri atau rasa sulit menyesuaikan diri.

d. Pengalaman didalam menjalani berbagai aspek kehidupan dengan menggunakan segala kelebihan yang ada pada dirinya.

C. Aspek – aspek self confidence

Menurut Lauster (1987) aspek-aspek self confidence adalah

a. Keyakinan akan kemampuan diri yaitu sikap positif seseorang tentang dirinya bahwa mengerti sungguh sungguh akan apa yang dilakukannya.

b. Optimis yaitu sikap positif seseorang yang selalu berpandangan baik dalam menghadapi segala hal tentang diri, harapan dan kemampuan.

c. Obyektif yaitu orang yang percaya diri memandang permasalahan atau segala sesuatu sesuai dengan kebenaran semestinya, bukan menurut kebenaran pribadi atau menurut dirinya sendiri.

d. Bertanggung jawab yaitu kesediaan seseorang untuk menanggung segala sesuatu yang telah menjadi konsekuensinya.

e. Rasional atau realistis yaitu analisa terhadap suatu masalah, suatu hal, sesuatu kejadian dengan mengunakan pemikiran yang diterima oleh akal dan sesuai dengan kenyataan.

D. Faktor- faktor yang mempengaruhi self confidence

Kepercayaan diri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

a. Faktor Internal

1. Konsep Diri

Terbentuknya kepercayaan diri pada seseorang diawali dengan perkembangan konsep diri yang diperoleh dalam pergaulan suatu kelompok. Menurut Centi (1995), konsep diri merupakan gagasan tentang dirinya sendiri. Seseorang yang mempunyai rasa rendah diri biasanya mempunyai konsep diri negatif, sebaliknya orang yang mempunyai rasa percaya diri akan memiliki konsep diri positif.

2. Harga Diri

Harga diri yaitu penilaian yang dilakukan terhadap diri sendiri. Orang yang memiliki harga diri tinggi akan menilai pribadi secara rasional dan benar bagi dirinya serta mudah mengadakan hubungan dengan individu lain. Orang yang mempunyai harga diri tinggi cenderung melihat dirinya sebagai individu yang berhasil percaya bahwa usahanya mudah menerima orang lain sebagaimana menerima dirinya sendiri. Akan tetapi orang yang mempuyai harga diri rendah bersifat tergantung, kurang percaya diri dan biasanya terbentur pada kesulitan sosial serta pesimis dalam pergaulan.

3. Kondisi Fisik

Perubahan kondisi fisik juga berpengaruh pada kepercayaan diri. Anthony (1992) mengatakan penampilan fisik merupakan penyebab utama rendahnya harga diri dan percaya diri seseorang. Lauster (1987) juga berpendapat bahwa ketidakmampuan fisik dapat menyebabkan rasa rendah diri yang kentara

4. Pengalaman Hidup

Lauster (1987) mengatakan bahwa kepercayaan diri diperoleh dari pengalaman yang mengecewakan, yang paling sering menjadi sumber timbulnya rasa rendah diri. Lebih-lebih jika pada dasarnya seseorang memiliki rasa tidak aman, kurang kasih sayang dan kurang perhatian.

b. Faktor Eksternal

1. Pendidikan

Pendidikan mempengaruhi kepercayaan diri seseorang. Anthony (1992) lebih lanjut mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan yang rendah cenderung membuat individu merasa dibawah kekuasaan yang lebih pandai, sebaliknya individu yang pendidikannya lebih tinggi cenderung akan menjadi mandiri dan tidak perlu bergantung pada individu lain. Individu tersebut akan mampu memenuhi keperluan hidup dengan rasa percaya diri dan kekuatannya dengan memperhatikan situasi dari sudut kenyataan.

2. Pekerjaan

Bekerja dapat mengembangkan kreatifitas dan kemandirian serta rasa percaya diri. Lebih lanjut dikemukakan bahwa rasa percaya diri dapat muncul dengan melakukan pekerjaan, selain materi yang diperoleh. Kepuasan dan rasa bangga di dapat karena mampu mengembangkan kemampuan diri.

3. Lingkungan

Lingkungan disini merupakan lingkungan keluarga dan masyarakat. Dukungan yang baik yang diterima dari lingkungan keluarga seperti anggota kelurga yang saling berinteraksi dengan baik akan memberi rasa nyaman dan percaya diri yang tinggi. Begitu juga dengan lingkungan masyarakat semakin bisa memenuhi norma dan diterima oleh masyarakat, maka semakin lancar harga diri berkembang (Centi, 1995). Sedangkan pembentukan kepercayaan diri juga bersumber dari pengalaman pribadi yang dialami seseorang dalam perjalanan hidupnya. Pemenuhan kebutuhan psikologis merupakan pengalaman yang dialami seseorang selama perjalanan yang buruk pada masa kanak kanak akan menyebabkan individu kurang percaya diri (Drajat, 1995).

Self confidence merupakan sesuatu yang berasal dan berakar dari pengalaman masa kanak-kanak dan berkembang, terutama sebagai akibat dari hubungan dengan orang lain. Pengalaman saat berhubungan dengan orang lain dan bagaimana orang lain memperlakukan kita akan membentuk gagasan dan penilaian dalam diri kita yang dapat mempengaruhi percaya diri atau self confidence.

Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Lauster (1987) menyebutkan bahwa ciri-ciri orang yang memiliki self confidence adalah tidak mementingkan diri sendiri, cukup toleran, cukup berambisi, tidak perlu dukungan orang lain, tidak berlebihan, optimistik, mampu bekerja secara efektif, bertanggung jawab atas pekerjaannya, dan merasa gembira. Orang yang mempunyai self confidence adalah mereka yang mampu bekerja secara efektif, dapat melaksanakan tugas dengan baik dan bertanggung jawab serta mempunyai rencana terhadap masa depannya.

Dapat disimpulkan bahwa orang yang percaya diri atau self confidence memiliki sikap yang tenang dan bersikap positif dalam menghadapi berbagai masalah dan tidak mudah menyerah, memiliki kemampuan sosialisasi yang baik, percaya kepada kemampuan sendiri, berani mengungkapkan pendapat, tidak mementingkan diri sendiri melaksanakan tugas dengan baik dan bertanggung jawab serta mempunyai rencana terhadap masa depannya. Dengan kemampuan-kemampuan tersebut individu mempunyai kemungkinan untuk lebih sukses dalam menjalani kehidupan bila dibandingkan dengan orang yang kurang atau tidak percaya diri atau self confidence rendah.

Masyarakat Madani

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Masyarakat Madani

Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, berdemokrasi yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga masyarakat madani dapat digambarkan sebagai sebuah kondisi masyarakat yang berperadaban, dimana unsur keadilan dan kesetaraan menjadi prasyarat utamanya dan menjadi fundamennya.

2. Karakter Masyarakat Madani

Karakteristik atau ciri-ciri masyarakat madani boleh di katakan syarat-syarat suatu negara untuk menjadi negara yang bermasyarakat madani.Ada tujuh prasyarat untuk menjadi masyarakat madani antara lain:

1. Terpenuhinya kebutuhan dasar individu, keluarga, dan kelompok dalam masyarakat.

2. Berkembangnya modal manusia (human capital) dan modal sosial (socail capital) yang kondusif.

3. Tidak adanya diskriminasi dalam berbagai bidang pembangunan.

4. Adanya hak, kemampuan dan kesempatan bagi masyarakat dan lembaga-lembaga swadaya untuk terlibat dalam berbagai forum dalam menentukan kebijakan publik yang dikembangkan.

5. Adanya kohesifitas antar kelompok dalam masyarakat serta tumbuhnya sikap toleransi.

6. Terselenggaranya sistem pemerintahan yang memungkinkan lembaga-lembaga ekonomi, hukum, dan sosial berjalan secara produktif dan berkeadilan sosial.

7. Adanya jaminan, kepastian dan kepercayaan antara jaringan-jaringan kemasyarakatan agar terjalinnya hubungan dan komunikasi secara teratur, terbuka dan terpercaya.

3. Masyarakat Madani Indonesia.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan segalanya mulai dari budaya,agama,suku dan ras serta terkenal akan keramahtamahannya, di tengah pluralitas yang banyak kita jumpai saat ini, Indonesia berupaya untuk menerapkan model masyarakat yang ideal yaitu masyarakat madani guna mewujudkan masyarakat yang adil, terbuka, dan demokratif, dengan landasan ketaqwaan kepada Tuhan seperti yang banyak diwacanakan oleh para akademisi hingga decision maker.

Banyak pihak yang menganggap bahwa negara Indonesia akan mampu untuk menerapkan model masyarakat madani ini. Akan tetapi upaya penerapan model masyarakat demikian tidaklah semudah dalam bayangan, banyak aspek yang harus diperhatikan untuk mewujudkan sebuah kondisi masyarakat yang ideal. Selain itu, terdapat beberapa argumentasi yang mengiringi perjalanan negara Indonesia dalam mengaplikasikan model masyarakat madani ini, diantaranya apakah masyarakat Indonesia sudah memiliki karakteristik masyarakat madani, dan apakah Indonesia sudah memenuhi prasyarat untuk menjadi sebuah negara yang bermasyarakatkan madaniyah?

Masyarakat Indonesia saat ini bisa dikatakan telah memiliki kemampuan dalam berkreatifitas dan berinovasi, mengingat telah diterapkannya nilai-nilai demokrasi pasca runtuhnya rezim orde baru. Selain itu, masyarakat Indonesia dewasa ini juga memiliki berbagai macam perspektif dalam menyikapi permasalahan negara. Hanya saja, masyarakat Indonesia saat ini cenderung lebih mementingkan kepentingan individunya, ketidakmampuan masyarakat kita dalam menyeleksi masuknya budaya asing juga menjadi salah satu penghambat negara kita untuk dapat mengaplikasikan model masyarakat madani.

Dewasa ini, sangat sulit menemui suatu daerah yang seratus persen masyarakatnya terpenuhi kebutuhan dasarnya. Masih banyaknya fenomena kaum miskin, tunagrahita, dan kriminalisasi, sedikit banyak menunjukkan bahwa negara kita masih belum cukup mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya. Disamping itu kesulitan negara dalam menyelenggarakan pemerintahan yang memungkinkan lembaga-lembaga ekonomi, hukum, dan sosial berjalan secara produktif, bersih, dan berkeadilan sosial juga menjadi sebuah pernyataan bahwa model masyarakat madani belum relevan untuk diaplikasikan di Indonesia.

Wacana mewujudkan masyarakat ideal, seperti halnya masyarakat madinah yang hidup pada masa Rasulullah SAW, hanyalah sebuah realitas imajinatif. Yaitu sebuah realitas yang hanya ada dalam bayangan atau angan-angan. Masih banyak hal yang perlu dibenahi dan diperbaiki oleh negara kita dan juga masyarakatnya. Dengan demikian, terwujudnya model masyarakat madani di Indonesia, juga menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang warga negara.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Masyarakat madani yang merupakan suatu tatanan masyarakat yang mengedepankan demokrasi dan peradaban yang maju bukanlah masyarakat yang sekali jadi akan tetapi dibentuk dari proses sejarah yang panjang dan perjuangan yang terus menerus untuk mewujudkan masyarakat madani di Indonesia, dibutuhkan motivasi yang tinggi dan partisipasi nyata dari individu sebagai anggota masyarakat. Diperlukan proses dan waktu serta dituntut komitmen dan penuh kearifan dalam menyikapi konflik yang tak terelakkan. Tuntutan untuk mewujudkan masyarakat madani, tidak hanya dilakukan dengan seminar, diskusi, penataran. Tetapi perlu merumuskan langkah-langkah yang sistematis dan kontinyu yang dapat merubah cara pandang, kebiasaan dan pola hidup masyarakat agar apa yang menjadi syarat terbentuknya masyarakat madani terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA

Tim ICCE UIN Jakarta,Pendidikan Kewarganegaraan.Demokrasi,HAM dan Masyarakat Madani,Jakarta :Prenada Media,2003

A Ubaidillah, Pendidikan Kewargagaan: Demokrasi, HAM, dan Masyarakat Madani, (Jakarta: IAIN Jakarta Press, 2000).

Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam Membangun Masyarakat Madani Indonesia, (Yogyakarta: Safira Insania Press, 2003).

http://wahyuagungriyadiblog.blogspot.com/2011/06/masyarakat-madani-di-indonesia.html/11:02/30-09-2012

http://hafidadimpradana.wordpress.com/2009/10/06/relevansi-penerapan-model-masyarakat-madani-di-indonesia/10:58/30-09-2012

Suryana, A. Toto, dkk. 1996. Pendidikan Agama Islam. Tiga Mutiara: Bandung

Sembilan Kitab Induk Dalam Studi Hadis

A. kitab-kitab induk hadis:

1. Kitab Sahih Al-Bukhari.Kitab Sahih Muslim.
2. Kitab Al-Muwatta’ Imam Malik.
3. Kitab Musnad Ahmad ibnHanbal.
4. Kitab Al-Umm Al-Syafi’i.
5. Kitab Sunan Sunan Ad-Darimi.
6. Kitab Sunan Abu Daud.
7. Kitab Sunan Al-Nasa’i.
8. Kitab Sunan Ibnu Majah.

B. Kelebihan dan Kekurangan Kitab Induk Hadis

1. Kitab Sahih Al-Bukhari

Kitab Shahih Bukhori adalah kitab hadis yang paling shahih sesudah al-Qur’an, menurut kesepakatan ulama dan telah disepakati oleh mayoritas ulama hadis. Meskipun termasuk kitab hadis yang paling shahih, kitab ini tidak terlepas dari kekurangan. Tetapi kelemahan ini bisa ditutupi oleh kelebihannya. Dibawah ini akan dijelaskan kelebihan dan kekurangan dari kitab shahih bukhari.

Banyak Sekali kelebihan dari kitab Shahih Bukhari, diantaranya:

a. Terdapat pengambilan hukum fiqih.

b. Perawinya lebih terpecaya.

c. Memuat beberapa hikmah.

d. Banyak memberikan faedah,manfaat dan pengetahuan.

e. Hadis-hadis dalam Shahih Bukhori terjamin keshahihannya karena Imam Bukhari mensyaratkan perowi harus sejaman dan mendengar langsung dari rawi yang diambil hadis darinya. Dan dari informasi yang disampaikan oleh salah seorang muridnya yang bernama al- Filbari bahwa ia pernah mendengar Muhammad ibn Isma’il al- Bukhari berkata: Aku menyusun Al-Jami’ al-Musnad al-Shtihih ini di Masjidil al-Haram, aku tidak memasukan sebuah hadispun ke dalam kitab itu sebelum aku shalat istikharah dua rakaat setelah itu aku baru betul-betul merasa yakin bahwa hadis tersebut adalah hadis shahih.

f. Kitab shahih Bukhari berisikan hadis shahih semuanya, atas pengakuan beliau sendiri” Saya tidak memasukkan dalam kitabku ini, kecuali shahih semuanya”.

Kelemahan Shahih Bukhari:

a. Kitab Shahih Bukhari memuat hadis Aisyah mengenai kasus tersihirnya Nabi yang dilakukan oleh Labid ibn A’syam. Menerima hadis tentang tersihirnya Nabi akan membahayakan prinsip ‘Ismah al-Nabawi. Selain itu, dengan menerima hadis tersebut berarti ikut membenarkan tuduhan orang-orang kafir bahwa kita hanya mengikuti seorang yang terkena pengaruh sihir,padahal tuduhan tersebut telah didustakan oleh Allah SWT.

b. Adapun kekurangan yang lain dari kitab shahih bukhari yaitu bahwa kitab Shahih Bukhori tidak memuat semua hadis shahih sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Bukhori.

2. Kitab Sahih muslim

Kitab Sahih Muslim oleh para ulama hadis dinilai dan dikategorikan sebagai salah satu kitab rujukan standar dari banyaknya koleksi kitab hadis. Imam Muslim dikenal sangat tawadhu’ dan wara’ dalam ilmu itu telah meriwayatkan puluhan ribu hadits.

Beberapa kelebihan kitab Sahih Muslim adalah :

a. Susunan isinya sangat tertib dan sistematis, pemilihan redaksi (matan) hadisnya sangat teliti dan cermat, Seleksi dan akumulasi sanadnya dijalankan dangan seksama tidak tertukar-tukar, serta tidak lebih dan tidak kurang, menempatkan hadis ke dalam tema tertentu dengan baik, beliau dalam menghimpun matan-matan hadis yang satu tema lengkap dengan sanad-sanadnya pada satu tempat, tidak memotong atau memisah-misahkannya dalam beberap bab yang berbeda serta tidak mengulang-ulang penyebutan hadis.

b. Telah diakui oleh para ulama bahwa shohih Bukhari adalah seshahih-shahih kitab hadits dan sbesar-besar pemberi faedah, dan shohih Muslim adalah secermat-cermat isnadnya, dan sekurang-kurang pengulangannya.

Kekurangan dari kitab Sahih Muslim, diantaranya:

a. Imam Muslim sering mencantumkan sanad hadis yang berbeda jalurnya.
b. Matan Sahih Muslim tidak sesuai dengan fakta historis.
c. Terdapat hadis maqlub, yakni hadis yang berbeda dengan hadis lain dikarenakan adanya pemindahan atau tukar menukar, yang terjadi pada kata-katanya.
d. Kesahihan hadis yang dipakai Imam Muslim lebih longgar. Imam Muslim tidak mensyaratkan adanya pertemuan antara guru dan murid bagi perawi hadis dalam kitabnya. Tetapi beliau hanya mensyaratkan bahwa guru dan murid yang meriwatkan hadis tersebut pernah hidup dalam satu masa, maka riwayatnya sah.
e. Dalam menyusun dan memasukkan hadis-hadis kedalam kitab Sahihnya Imam Muslim tidak menjelaskan syarat tertentusecara eksplisit.

3. Kitab Al-Muwatta’ Imam Malik

Kitab al-Muwatta’ karya Imam Malik adalah kitab hadis tertua yang lahir pada masa pembukuan dan kodifikasi hadis yang masih bisa kita jumpai sampai saat ini. Pada zamannya kitab ini biasa di bilang sebagai kitab yang paling mu’tabar.

Kelebihan Kitab al-Muwatta’:

a. Kitab hadis yang bersistematika fiqh.
b. Metode yang dipakai adalah metode pembukuan hadis berdasar klasifikasi hukum islam dengan mencantumkan hadis yang berasal dari Nabi, berasal dari sahabat dan berasal dari tabiin, ijm’ ahlul Madinah dan pendapat Imam Malik.
c. Seluruh hadis yang diriwayatkan Imam Malik adalah shahih.
d. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa al-muwatta’lebih sahih dari Sunan ibn Majjah atau bahkan menempati peringkat pertama dalam hal kesahihan setelah Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.
e. Kemunculan al-muwatta’ merupakan sebuah kemajuan dalam bidang hadis.

Kekurangan Kitab al-Muwatta’:

a. Dalam menuliskan kitabnya, Imam Malik sering menuliskan peristiwa yang terjadi saat kitab itu ditulis.
b. Hadis dalam kitab ini, tidak semuanya shahih, namun terdapat pula hadis dhaif didalamnya.

4. Kitab Musnad Ahmad ibn Hanbal

Kelebihan Musnad Ahmad ibn Hanbal:

a. Hadis-hadis dalam musnad Ahmad semuanya bisa dijadikan Hujjah, hal tersebut dijelakan sendiri oleh Ibnu Hambal dalam kitabnya.
b. Merupakankitab termasyhur dan terbesar pada periode kelima perkembangan hadis.
c. Ahmad ibn Hanbal sangat hati-hati dalam menerima kebenaran sanad dan matan Hadis.
d. Dalam kitab Musnad tersebut terdapat Hadis sahih, hasan dan maudhu’.

Kekurangan musnad ibn Hanbal:

a. Cenderung terlalu tekstual dalam memahami Al Qur’an maupun hadis.
b. Kurang peduli terhadap sanad hadis.
c. Ibnu Hambal kurang memperhatikan sanad hadis, karena menurutnya, hadis dikatakan sah apabila telah menggambarkan karakter yang seungguhnya dari Nabi.

5. Kitab Sunan Ad-Darimi

Kelebihan Kitab Sunan ad-Darimi:

a. Menempati posisi yang tinggi dikalangan ulama ahli hadis.
b. Dengan sebatas mengetahui salah satu kosa kata dalam hadis sudah dapat kita gunakan untuk mentakhrij.
c. Terdapat informasi rinci tentang nama kitab, bab, dan nomor hadis.

Kekurangan Kitab Sunan ad-Darimi:

a. Ad-Darimi tidak menyatakan secara eksplisit kriteria-kriteria tertentu yang ia pakai untuk menyaring h adis-hadis yang ia masukan kedalam kitabnya tersebut.
b. Imam ad-Darimi dalam menyusun kitab ini laksana sistematika yang digunakan penyusun kitab-kitab fiqih, sehingga tidak bisa di hindari adanya pengulangan hadis.
c. Hadis yang ditampilkan terkadang tidak sesuai secara persis dengan yang cari, jika terdapat pengurangan dan penambahan kata dalam matan.
d. Kitab ini tidak banyak dikenal, karena kitab hadis ini tidak banyak mengemukakan tambahan hadis dari apa yang sudah ada dalam al-kutub al-sitah, dan isi kandungannya memuat asar, muquf dan maqtu.5

6. Kitab Sunan Al-Tirmizi

Kelebihan dari Kitab Sunan Al-Tirmizi:

a. Dalam kitab ini terdapat berbagai faedah dalam bidang fiqih dan hadits yang tidak ada dalam kitab yang lain dan hukum-hukumnya lebih tertib.
b. Dalam akhir kitab beliau menerangkan bahwa semua hadits yang terdapat dalam kitab ini adalah ma’mul (bisa diamalkan).
c. Imam Tirmidzi tergolong dalam kelompok “Tsiqah” atau orang-orang yang dapat dipercayai dan kukuh hafalannya,
d. Imam Tirmidzi di dalam Al-Jami’-nya tidak hanya meriwayatkan hadith shahih semata, tetapi juga meriwayatkan hadits-hadits hasan, da’if, garib dan mu’allal dengan menerangkan kelemahannya.

Kelebihan Kitab Sunan Al-Tirmizi:

Imam al-Tirmizi tidak memberikan definisi yang pasti tentang hadis hasan sehingga menimbulkan perbedaan pendapat antara ulama.

7. Kitab Sunan Abu Daud

Kelebihan Kitab Sunan Abu Daud:

a. Para ulama memberikan pujian kepadanya dan menyebutkan bahwa beliau memiliki hafalan yang sempurna, pemahaman yang kuat, dan seorang yang wara.
b. Kitab Sunan Abu Daud adalah sebuah kitab yang mulia yang belum pernah disusun oleh sesuatu kitab yang lain yang menerangkan hadis-hadis hukum sepertinya. Para ulama menerima baik kitab sunan tersebut, kerana ia hanya menjadi hakim antara ulama dan para fuqaha’ yang berlainan mazhab. Kitab itu menjadi pegangan ulama Irak, Mesir, Moroko, dan negeri lain.
c. Abu Daud telah menghimpun segala macam hadis hukum dan menyusunnya dengan sistematik yang baik dan indah, serta membuang hadis yang lemah.
d. Imam Abu Daud menyusun kitabnya di Baghdad. Keutamaan penyusunan kitabnya adalah berkaitan dengan masalah hukum, jadi kumpulan hadisnya lebih berfokuskan kepada hadis yang berkaitan hukum.

Kekurangan Kitab Sunan Abu Daud:

a. Abu Dawud tidak menjelaskan secara terperinci tentang kriteria shahih dan da’if dalam kitabnya.
b. Adanya kemiripan Abu Daud dengan Imam Hambali dalam hal bertoleransi terhadap hadis yang dha’if yang mana sebilangan kalangan ulama yang lain menilai hadis tersebut sebagai dha’if.
c. Hadits-hadits yang dihimpun dalam Sunan Abu Dawud hanya hadits-hadits fiqh saja.
d. Perlu meneliti lebih lanjut tentang kualitas hadis yang terhimpun dalam kitab ini, karena walaupun sudah dicantumkan tentang keterangan hadits akan tetapi masih diperlukan pemahaman yang mendalam agar mengetahui kualitas hadits yang terhimpun.

8. Kitab Sunan Al-Nasa’i

Kelebihan Kitab Sunan Nasa’i:

a. Kitab yang paling sedikit hadis-hadis dla’ifnya. Derajatnya lebih tinggi dari sunan Abu Dawud, sunan At Turmudzi, bahkan ada yang mengatakan rijalul hadits yang dipakai lebih tinggi nilainya daripada yang dipakai Imam Muslim.

b. Dalam menilai integritas rijalul-hadis seperti dikemukakan oleh Abu Ali al-Naisaburi cenderung lebih hati-hati dan lebih ketat dari pada cara yang ditempuh oleh Imam Muslim.

c. Sangat sedikit jumlah satuan perawi dalam Sunan al-Nasa’i yang dicurigai lemah, terbukti banyak perawi yang dikoleksi hadis-hadisnya oleh Imam Abu Dawud dan Imam al-Turmudzi justru dikesampingkan dan ditolak oleh Imam al-Nasai.

d. Dalam Sunan al-Nasai sebenarnya banyak dijumpai hadis dha’if, mu’allal dan munkar. Dengan demikian derajat kedudukan Sunan al-Nasa’i tetap pada jajaran khutub al-Khamsah (usul al-Khamsah) yang penempatan rengkingnya berada dibelakang sahihain (al-Jami’ al-Bukhari dan Shahih Muslim), yang dari segi dukungan mutu hadis setara dengan koleksi Sunan Abu Dawud.

Kekurangan Kitab Sunan nasa’i:

a. Dalam Sunan al-Nasai sebenarnya banyak dijumpai hadis dha’if, mu’allal dan munkar.
b. Kitab Sunan An Nasa’i adalah kitab yang kurang mendapat syarah dibandingkan kitab sunan yang lain.

9. Kitab Sunan Ibnu Majah

Kitab ini menyajikan sedikit sekali pengulangan, dan merupakan salah satu yang terbaik dalam pengaturan bab dan sub bab, suatu kenyataan yang diakui oleh banyak ulama.

Kelebihan kitab Sunan Ibnu Majah:

a. Keunggulan kitab ini adalah terletak pada cara pengemasannya.
b. Memuat hadis-hadis yang tidak ditemukan dalam kutub al-khamsah.
c. Jumlah pasal-pasal dalam kitab sunan Ibn Majah banyak dan ditata dengan baik dengansedikit sekali adanya pengulangan.
d. Kitab Sunan seluruhnya shahih dan sebagiannya ma’lul dan yang dinamakan al Mujtaba, semua hadisnya shahih.
e. Kitab yang paling sedikit hadis-hadis dla’ifnya.
f. Derajatnya lebih tinggi dari sunan Abu Dawud, sunan At Turmudzi, bahkan ada yang mengatakan rijalul hadits yang dipakai lebih tinggi nilainya daripada yang dipakai Imam Muslim.

Kekurangan kitab Sunan Ibnu Majah:

a. Minimnya informasi atas hadis-hadis yang dinilai da’if dan maudu’.
b. Dalam kitab ini terdapat hadis-hadis yang bernilai da’if, munkar, batil, dan bahkan maudu, ibnu Majah pun tidak menjelaskan sebab-sebabnya.
c. Hadis yang disebut dalam kitab hadisnya tidak hanya hadis sahih, melainkan berbagai macam hadis yang dalam keadaan cacat.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Kitab induk hadis yang masyhur diantaranya adalah:

1. Sahih al-Bukhari adalah seorang ahli hadis yang mendapatkan gelar tertinggi, yang disepakati para ulama sebagai pengarang kitab yang tersahih yaitu setelah al-Qur’an.

2. Kitab Sahih MuslimOleh para ulama hadis dan dikategorikan sebagai salah satu kitab rujukan standar dari banyaknya koleksi kitab hadis.

3. Kitab Al-Muwatta’ Imam Malik
Sebagian ulama’ berpendapat bahwa al-muwatta’lebih sahih dari Sunan ibn Majjah atau bahkan menempati peringkat pertama dalam hal kesahihan setelah Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.

4. Kitab Musnad Ahmad ibn Hanbal
Hadis-hadis dalam musnad Ahmad semuanya bisa dijadikan Hujjah dan merupakan kitab termasyhur dan terbesar pada periode kelima perkembangan hadis.

5. Kitab Sunan ad-Darimi
Menempati posisi yang tinggi dikalangan ulama ahli hadis.

6. Kitab Sunan Al-Tirmizi
Imam Tirmidzi tergolong kelompok orang-orang yang dapat dipercayai dan kukuh hafalannya dan semua hadits yang terdapat dalam kitab ini bisa diamalkan.

7. Kitab Sunan Abu Daud
sebuah kitab yang belum pernahdisusun oleh kitab yang lain yang menerangkan hadis-hadis hukum sepertinya. Beliau menjadi hakim antara ulama dan para fuqaha’ yang berlainan mazhab.

8. Kitab Sunan Nasa’i
yang derajatnya lebih tinggi dari sunan Abu Dawud, sunan At Turmudzi, bahkan ada yang mengatakan rijalul hadits yang dipakai lebih tinggi nilainya daripada yang dipakai Imam Muslim.

9. Kitab Sunan Ibnu Majah
Kitab ini memiliki keunggulan dalam cara pengemasannya serta memuat hadis-hadis yang tidak ditemukan dalam kutub al-khamsah.

Daftar Pustaka

Abdurrahman , M. Studi Kitab Hadis. Yogyakarta: Teras, 2003.
Abdul Mahdi, Abu Muhammad. Metode Takhrij Hadis. Semarang: Dina Utama, 1994.
Ash-Shiddieqy, Hasbi. Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadis Jilid II. Jakarta: Bulan Bintang, 1987.
Rahman, Fat

Sejarah Pembentukan Tulisan dalam Al-Qur’an

Mushaf al-Quran pada masa sahabat tidaklah sama seperti yang sekarang ini sebab dalam sejarah penulisannya Al-Quran mengalami perkembangan. Seperti mushaf yang ditulis masa khalifah Utsman ialah tidak berharakat dan tidak pula memiliki tanda titik. Kemudian untuk mengetahui sejarah pembentukan tulisan terlebih dahulu akan dipaparkan mengenai apa saja nama-nama dari al-Qur’an sendiri, selanjutnya pengumpulan dan pembukuan al-Qur’an.

a.Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang memiliki nama-nama yang masyhur seperti:

-Al-Furqan yang memiliki arti sebagai pembeda (antara yang hak dan yang batil, mengenai benar dan salah.
-Al-Kitab yang seperti tertulis dalam surat An-nahl ayat 89.
-Adz-Dzikr yang memiliki arti peringatan.
-At-Tanzil seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Asy-Syuro ayat 192.
-Suhuf yang memiliki arti berupa lembaran-lembaran.

Kemudian Abu Ma’ali Syaidzalah (wafat 494 H) menyebutkan nama-nama Al-Qur’an sebanyak 55 nama diantaranya yaitu: Al-Kitab tertulis dalam Qur’an surat Az-Zuhruf ayat 1-2, Al-Mubin, Al-Qur’an dalam surat Al-Waqi’ah ayat 77, Al-Karim, Al-Kalam dalam surat AtTaubah ayat 6, An-Nur dalam surat An-Nisa ayat 173, Al-Huda, Ar-Rahmah dalam surat Yunus ayat 57, Al-Furqan dalam surat Al-furqan ayat 1, Asy-Syifa dalam surat Al-Isro ayat 87, Al-Mauidhah dalam surat Yunus ayat 51, Adz-Dzikr dalam surat Al-Anbiya ayat 50, Al-Mubaroq, Al-Aly’ dalam surat Az-Zuhruf ayat 4, dan masih banyak nama-nama Al-Qur’an hingga mencapai 55 nama meskipun tidak masyhur dikalangan para ahli tafsir.

b.Sejarah Pembukuan Al-Qur’an

Dalam hal ini sejarah pembukuan Al-Quran terbagi menjadi tiga masa yaitu pertama pada masa Nabi Muhammad SAW. dengan cara nabi menunjuk bebrrapa sahabat untuk menuliskan wahyu Al-Qur’an perintah itu ditujukan kepada sahabat yang dapat membaca dan menulis. Di antara sahabat itu ialah: Khulafaurrasyidin, Muawiyah bin Abu Sufyan, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Khalid bin Walid, Yazid bin Abi Sufyan, Tsabit bin Qois Ibnu syams, Amir Ibnu Fuhairah (sekertaris Nabi yang bertugas menuliskan surat kepada raja-raja), Al-Mughirah bin Syu’bah, Jubair Ibnu Al-Awam, Amr Ibnu Al-Ash, Muhammad bin Maslamah.

Para utusan Nabi dalam menuliskan wahyu memiliki tugas sebagai berikut:
– Menuliskan wahyu dan mengurutkan sesuai dengan petunjuk Nabi yang langsung didapat atas petunjuk Allah melalui malaikat Jibril.
– Ayat Al-Qur’an dituliskan pada benda-benda seperti: pada kepingan batu, lembaran kulit binatang, pelepah kurma, tulang unta dll.
– Hasil tulisan tersebut disimpan di rumah Nabi, namun secara pribadi para sahabat menulis untuk diri sendiri.
– Yang boleh ditulis hanyalah Al-Qur’an karena dikhawatirkan akan tercampur dan dapat mencemari kesucian dari Al-Qur’an itu sendiri.
Selengkapnya simak dalam Sejarah Perkembangan Al-qur’an pada masa Rasulullah SAW

Kedua, ialah pengumpulan pada masa Abu Bakar As-Shidiq, yakni setelah Nabi wafat dan diteruskan oleh Abu Bakar sebagai Khalifah yang pertama. Penulisan dan pengumpulan Al-Qur’an pada masa ini dilakukan karena adanya seseorang yang mengaku sebagai Nabi ialah Musailamah Al-Kadzab, ia menyebarkan kebohongan yang amat besar sehingga ia dapat mempengaruhi para kaum muslimin terutama Bani Hanifah dan mereka murtad.

Dari kejadian ini akhirnya Abu Bakar menyiapkan pasukan sejumlah 4000 pengendara kuda untuk menyerang mereka. Dalam peperangan kemenangan ada dalam pihak Islam. Namun peperangan ini menyebabkan gugurnya para penghafal Al-Qur’an sebanyak 700 orang. Dan perang ini terkenal dengan sebutan perang Yamamah. Dari banyaknya para penghafal Al-Qur’an yang gugur akhirnya Abu Bakar melakukan pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an atas perintah Umar bin Khatab di karenakan khawatir jika Al-Qur’an lama-lama akan hilang jika di pelihara dalam bentuk hafalan saja. Namun pada awalnya Abu Bakar menolak saran dari Umar bin Khatab dengan ucapan “Bagaimana kita dapan melakukan sesuatu hal yang tidak dilakukan oleh Rasul? Kemudian sahabat Umar menjawab: demi Allah ini merupakan suatu perbuatan yang baik” dann kemudian Umar terus mendesak kepada Abu Bakar agar bersedia melakukannya. Kemudian Abu Bakar berkata: sehingga Allah melapangkan hatiku dan aku mengakui kebenaran pendapat Umar”.

Kemudian Abu Bakar melakukan pengumpulan Al-Qur’an dengan cara memerintahkan memerintahkan Zaid bin Tsabit selaku sekertaris Nabi untuk memeriksa dan mencari suhuf-suhuf yang berserakan dari beberapa sahabat. saat itu Zaid juga menolak namun akhirnya ia menerima sama halnya seperti Abu Bakar ketika menerima saran dari Umar.
Selanjutnya Zaid bin Tsabit dalam mengumpulkan Al-Qur’an dengan beberapa hal yakni dengan mengumpulkan Al-Qur’an yang ada pada suhuf, baik berupa batu, kayu ataupun pelepah kurma. Selanjutnya Zaid bin Tsabit mendatangi para sahabat yang hafal Al-Qur’an untuk dibacakan dengan 2 orang saksi. Namun setelah diperiksa apa yang ada dalam kepingan maupun para penghafal Al- Qur’an ada satu ayat yang pernah didengar dari Nabi tetapi tidak terdapat dalam kepingan tersebut. Kemudian Zaid terus berusaha mencari ayat-ayat Al-Qur’an yang akhirnya ia menemukannya dari seorang sahabat Anshar yang bernama Abu Khuzaimah Ibnu Aus yaitu berupa Q.S Al-Ahzab ayat 23

من ا لمؤمنين رجال صدقوا ماعاهدوا الله عليه فمنهم من قضى نحبه ومنهم من ينتضرومابدلوا تبديلا

Setelah ayat tersebut ditemukan kemudian Zaid bin Tzabit berkata sessudah ayat ini kudapati maka aku letakkan di suratnya. Kemudian Zaid bin Tsabit menemukan kembali ayat yang tidak terdapat dalam kepingan-kepingan tersebut. Kemudian ia bertanya kepada para penghafal dari Muhajirin dan Anshar lalu ia pun mendapatkannya pada Khuzaimah bin Sabit yaitu Q.S At-Taubah ayat 128 dan 129.

Setelah dari penulisan Al-Qur’an dirasa lengkap serta dilengkapinya 2 orang saksi dalam tiap penulisannya maka lembaran-lembaran tersebut digulung dan diikat dengan benang untuk kemudian disimpan oleh Abu Bakar. Setelah ia wafat kemudian disimpan oleh Umar lalu disiman oleh istri Nabi yaitu Hafshah.
Ketiga, penulisan dan pengumpulan pada masa Khalifah Usman bin Affan terjadi ketika masa itu terdapat perselisihan antara pasukan Islam mengenai perbedaan bacaan Al-Qur’an yang membuat cemas karena dikhawatirkan umat Islam akan terpecah belah. Kemudian Usman mengutus Hudzaifah bin Al-Yaman untuk memintakan suhuf Al-Qur’an kepada Hafshah umtuk disalin kedalam mushaf dan setelah disalin maka sufuf itu dikembalikan kepada Hafshah.

Selain itu di Madinah juga terdapat anak-anak berselisih perihal masalah bacaan Al-Qur’an yang mana perselisihan ini hampir menimbulkan perang mulut hingga perang fisik antara murid dengan murid dan bahkan guru dengan guru.
Setelah Usman mendengar kabar tersebut lantas bergegaslah ia mengutus Hudzaifah untuk meminjam suhuf pada Hafshah yang di susun pada masa Abu Bakar. Selanjutnya membentuk panitia yang bertugas menyusun mushaf Abu Bakar yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Adapun tugas dari badan tersebut diantaranya adalah: menyalin suhuf ke dalam satu mushaf, jika terdapat perselisihan dalam hal bacaan maka hendaknya ditulis menggunakan bacaan Quraisy karena Al-Quran diturunkan dengan lisan Quraisy, kemudian badan tersebut berpegang erat pada penyususnan yang dilakukan secara tertib pada masa Abu Bakar. Setelah penulisan ini selesai maka suhuf dikembalikan pada Hafshah istri Nabi. Kemudian setelah mushaf tesalin secara sempurna baik segi surat maupun ayat kemudian mushaf tersebut digandakan sebanya 7 mushaf dengan tujuan untuk di kirim ke kota-kota besar wilayah Islam dan membakar mushaf yang lain.

c.Bentuk- bentuk Tulisan Mushaf

Setelah meluasnya pengaruh Islam dan banyaknya pemeluk agama yang berasal dari luar Arab mulai muncul sebuah pemikiran terkait pembacaan Al-Qur’an. Maka ulama masa ini khawatir jika nantinya bacaan Al-Qur’an akan rusak. Maka para ulama mulailah memikirkan solusi dengan beberapa langkah sebagai berikut:

1.Saat Ziad Ibnu Abihi menjadi penguasa Iraq kemudian memerintahkan seseorang Tabi’in bernama Abu Aswad Ad-Du’ali untuk membuat tanda-tanda baca dalam Al-Qur’an yaitu dengan cara memberikan baris huruf penghabisan dan kalimah saja dengan memakai titik di atas dan titik di bawah, namun usaha Abu Aswad Ad-Du’ali tidak dapat mengatasi kecederaan dalam bacaan Al-Qur’an.

2.Kemudian usaha selanjutnya diteruskan oleh Nashr Ibnu ‘Ashim atas perintah Al-Hajjaj, ia memberikan tanda titik pada suatu huruf dengan tujuan untuk membedakan antara huruf satu dengan huruf lainnya.
Kemudian usaha tersebut dilanjutkan oleh Kholid bin Ahmad (100 H-170 H). ia mengubah metode Abu Aswad Ad-Du’ali dengan menjadikan alif yang dibaringkan di atas huruf fathah dan yang dibawah huruf kasroh dan wawu tanpa baris di depan huruf dhomah. Kemudian beliau juga yang mendatangkan tajwid.

3.Pada masa khalifah Al-Ma’mun dilakukan penyempurnaan tanda baca Al-Qur’an seperti tanda waqof, tanda ibtida, dan memberi nama pada surat beserta tempat turunnya, jumlah ayat, ruku’ dan sebagainya.
Terdapat riwayat lain yang mengatakan bahwa yang pertama kali menciptakan tanda titik, harokat adalah Hasan al-Busri pada pemerintahan Abdul Malik bin Marwan Khalifah Bani Umayyah, bahwasanya Abdul Malik memerintahkan Al-Hajjaj kemudian beliau memerintahkan kepada Al-Hasan Bisri dan Ya’mur murid Abu Aswad Ad-Du’ali.

Perkembangan Ilmu Fiqh

A. Definisi Fiqh

Fiqh adalah produk dari Islam sendiri yang telah disepakati oleh ulama dari berbagai madzhab. Objek dari kajian fiqh ialah membahas segala perbuatan dan ucapan manusia terkait dengan hal ibadah, muamalah, pidana atau bergagai macam tindakan yang kesemuanya itu memiliki hukum dasar dalam syariat Islam. Secara bahasa fiqh berarti pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ yang praktis yang di ambil dari dalil secara terperinci.

Berdasarkan kesepakatan ulama bahwa dalil-dalil yang diperbolehkan dijadikan sebagai dasar hukum  atas dasar empat sumber: al-Qur’an, Hadis, Ijma’ dan Qiyas, namun sumber utamanya ialah al-Qur’an dan Hadis. Oleh sebab itu para ulama telah membahas terhadap masing-masing dalil dan argumen yang diambil sebagai hujjah terhadap manusia dan sumber syariat yang harus diikuti ketetapannya dalam menggunakan dalil, macam-macamnya yang bersifat umum dan dalalah yang ditunjuk oleh masing-masing dalil berupa hukum syara’ yang bersifat umum.

Fiqh memiliki objek kajian terhadap seseorang mukallaf (orang yang dianggap berakal dan sudah baligh) dengan tujuan untuk menerapkan hukum-hukum syariat terhadap ucapan dan perbuatan manusia agar manusia itu sendiri dapat mengetahui hukum syara atas apa yang telah dan akan dilakukannya yang berasal dari dirinya sendiri.

B. Perkembangan Fiqh

1) Perkembangan fiqh berjalan sesuai dengan laju kehidupan manusia sebagai pemeluk agama Islam. Hukum amaliyah pada masa Rasulullah berasal dari al-Qur’an dari berbagai hukum yang keluar dari rasulullah dengan suatu fatwa terhadap suatu kasus atau suatu putusan atas persengketaan yang menjadi jawaban dari suatu pertanyaan. Gabungan hukum pada periode pertama terbentuk atas hukum-hukum Allah dan rasulNya melalui al-Quran dan Hadis.

2) Kemudian periode kedua, tepatnya pada masa sahabat muncullah berbagai permasalahan yang baru yang mana pada masa Nabi sendiri belum ada. Maka dalam pengambilan hukum ini mereka para mujtahid berijtihad untuk memberikan putusan fatwa dan menggabungkan ijtihad dari hukum yang pertama. Maka dapat dismipulkan bahwa kompilasi dari hukum fiqh itu terbentuk dari hukum Allah dan RasulNya, kemudian fatwa dan putusan dari para sahabat. Yang mana sumbernya adalah al-Qur’an dan hadis dan ijtihadi para sahabat.

Pada kedua periode tersebut hukum-hukum syariat belum terkondifikasi dan belum ada penetapan suatu hukum atas kasus berupa pengaindaian melainkan hanya kasus yang benar-benar telah terjadi. Hukum ini belum bisa dikatakan ilmiyah karna hanya sebagai penyelesaian secara dadakan.  Dan kompilasi ini belum bisa dikatakan sebagai ilmu fiqh dan tokoh-tokoh kalangan sahabat belum bisa dikatakan sebagai fuqaha.

3) Namun kemudian pada masa berikutnya ketika Islam meluas dan banyak dari orang-orang di luar Arab memeluk agama Islam kira-kira abad kedua dan ketiga hijriyah atau pada masa Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in serta mara imam mujtahid. Barulah kaum muslim dihadapkan dengan permasalahan-permasalahan yang baru lagi.

Adanya permasalahan-permasalahan baru menuntut para ulama untuk melakukan kajian dan memunculkan beragam teori dan intelektualitas yang membuat para mujtahid membuka pengkajian analisis yang menjadikan objek kajian semakin luas dan mulai ditetapkan pula hukum untuk permasalahan berupa pengandaian.  Kemudian hukum ini terkompilasi dari hukum Allah dan RasulNya, putusan para sahabat, dan  para mujtahid. Sedang hukumnya ialah bersumber pada al-Qur’an, Hadis, ijtihad para sahabat dan para imam mujtahid. Pada periode inilah kemudian fiqh bekembang dan memiliki kerangka ilmiah, karena pada masa ini telah dilengkapi atas dalil-dalil, ilatnya, dan prinsip-prinsip umum yang bercabang yang berasal darinya. Pada periode ini juga barulah kemudian muncul istilah fuqaha’ dan fiqh yang dapat dinamakan sebagai ilmu.

Di antara dari berbagai kodifikasi hukum pertama kali kita kenal yang sampai kepada kita ialah kitab Muwatha’ karya Imam Malik bin Anas. Dalam kitabnya ini ia menghimpun hadis-hadis yang sahih yang ia ketahui, kemudian fatwa-fatwa para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in atas permintaan khalifah Al-Manshur. Kitab ini merupakan karya yang sekaligus mencakup hadis dan fiqh dan menjadi asas fiqh dari golongan Hijaz. Selanjutnya pengikut Madzahab Hanafi mengkodifikasikan sejumlah kitab fiqh yang menjadi landasan kelompok dari Irak. Kemudian imam Muhammad bin Al-Hasan, bermadzhab Hanafi juga mengkodifikasikan beberapa kitab yang jelas dari periwayatan hadisnya yang dihimpun oleh Al-Hakim Asy-Syahid dari kitabnya Al-Kafi dan kemudian dikomentari oleh As-Sarkasi dalam kitabnya Al-Mabtsun, yang menjadi rujukan fiqh madzhab Hanafi. Selanjutnya Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i mendiktekan kitab Al-Umm di Mesir yang menjadi landasan fiqh bagi madzhab Syafi’i.

Demikian penjelasan singkat perkembangan ilmu fiqh dari masa pertama ialah masa Rasulullah SAW, masa kedua dan masa ketiga hingga menjadikan fiqh dikatakan sebagai produk ilmu. Dan semoga penjelasan singkat tersebut dapat menam,bah wawasan bagi kita.

Menghina dan Memerangi Orang Islam

Harus diketahui bahwasannya membenci, memboikot dan berseberangan dengan kaum muslimin adalah haram hukumnya, selain itu memaki orang Islam adalah tindakan fasiq dan memeranginya adalah tindakan kufur jika kamu beranggapan bahwa tindakan tersebut adalah halal.

Seperti terdapat kisah mengenai Khalid bin Walid bersama pasukannya ketika menuju Bani Jadzimah dengan tujuan untuk mengajak mereka masuk Islam. Saat Khalid tiba di tempat mereka, mereka menyambutnya. Lalu Khalid menyeru kepada mereka, “Peluklah agama Islam!”. “ Kami ada kaum muslimin, lalu mereka menjawab “Letakkan senjata kalian dan turunlah.” Lanjut Khalid. “Tidak, demi Allah. Karena setelah senjata diletakkan pasti ada pembunuhan. Kami tidak bisa mempercayai kamu dan orang-orang yang bersama kamu.” Jawab mereka kembali. “Tidak ada perlindungan buat kalian kecuali jika kalian mau turun,” Kata Khalid. Akhirnya sebagian kaum menuruti perintah Khalid dan sisanya tercerai-berai.

Dalam riwayat lain redaksinya sebagai berikut : Ketika Khalid tiba bertemu mereka, mereka menyambutnya. Lalu Khalid bertanya, “Siapakah kalian? Apakah kaum muslimin atau kaum kafir?”. “Kami adalah kaum muslimin yang menjalankan sholat, membenarkan Muhammad, membangun masjid di tanah lapang kami dan mengumandangkan adzan di dalamnya.” Jawab mereka.

Dalam lafadz hadits, mereka tidak bisa mengucapkan Aslamnaa (Kami berserah diri), akhirnya mereka mengatakan Shoba’naa Shoba’naa. “ Buat apa senjata yang kalian bawa?, tanya Khalid. “Ada permusuhan antara kami dan sebuah kaum Arab. Oleh karena itu kami khawatir kalian adalah mereka hingga kami pun membawa senjata.” Jawab mereka. “ Letakkan senjata kalian!” Perintah Khalid. Mereka pun mengikuti perintah Khalid untuk meletakkan senjata. “Menyerahlah kalian semua sebagai tawanan!” Lanjut Khalid. Kemudian Khalid menyuruh sebagian dari kaum untuk mengikat sebagian yang lain dan membagikan mereka kepada pasukannya.

Ketika tiba waktu pagi, juru bicara Khalid berteriak : “Siapapun yang memiliki tawanan bunuhlah ia!”. Maka Banu Sulaim membunuh tawanan mereka. Namun kaum Muhajirin dan Anshor menolak perintah ini. Mereka malah melepaskan para tawanan.
Ketika tindakan Khalid ini sampai kepada Nabi SAW, beliau berkata, “ Ya Allah, saya tidak bertanggung jawab atas tindakan Khalid.” Beliau mengulang ucapan ini dua kali.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa Khalid mengira mereka mengatakan Shoba’naa Shoba’naa dengan angkuh dan menolak tunduk kepada Islam. Hanya saja yang disesalkan Rasulullah adalah ketergesa-gesaan dan ketidak hati-hatiannya dalam menangani kasus ini sebelum mengetahui terlebih dulu apa yang dimaksud dengan Shoba’naa Shoba’naa. Nabi SAW sendiri pernah bersabda “Sebaik-baik hamba Allah adalah saudara kabilah Quraisy ; Khalid ibn Walid, salah satu pedang Allah yang terhunus untuk menghancurkan orang-orang kafir dan munafik”.

Persis seperti apa yang dialami Khalid adalah peristiwa yang menimpa Usamah ibn Zaid kekasih dan putra kekasih Rasulullah SAW berdasarkan hadits yang diriwayatkan AlBukhari dari Abi Dzibyan. Abi Dzibyan berkata, “Saya mendengar Usamah ibn Zaid berkata, “Rasulullah SAW mengirim kami ke desa Al-Huraqah. Kemudian kami menyerang mereka di waktu pagi dan berhasil mengalahkan mereka. Saya dan seorang laki-laki Anshar mengejar seorang laki-laki Bani Dzibyan.

Ketika kami berdua telah mengepungnya tiba-tiba ia berkata, “La Ilaaha illallah”. Ucapan laki-laki ini membuat temanku orang Anshor mengurungkan niat untuk membunuhnya namun saya menikamnya dan diapun mati. Ketika kami tiba kembali di Madinah, Nabi SAW telah mendengar informasi tentang tindakan pembunuhan yang saya lakukan. Beliau pun berkata, “ Wahai Usamah! Mengapa engkau membunuhnya setelah dia mengatakan Laa Ilaaha illallah?!” “Dia hanya berpura-pura,” Jawabku. Nabi mengucapkan pertanyaannya berulang-ulang sampai-sampai saya berharap baru masuk Islam pada hari tersebut.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Usamah,“Mengapa tidak engkau robek saja hatinya agar kamu tahu apakah dia sungguhsungguh atau berpura-pura?”. “Saya tidak akan pernah lagi membunuh siapapun yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah”.
Kata Usamah Sayyidina Ali RA pernah ditanya mengenai kelompok-kelompok yang menentangnya“Apakah mereka kafir?”, “Tidak,” jawab Ali, “Mereka adalah orang-orang yang menjauhi kekufuran”. “Apakah mereka kaum munafik?”. “Bukan, orang-orang munafik hanya sekelebat mengingat Allah sedang mereka banyak mengingat Allah”. “Terus siapakah mereka?” Ali kembali ditanya. “Mereka adalah kaum yang terkena fitnah yang mengakibatkan mereka buta dan tuli”, jawab Ali.

Sumber diambil dari kitab Mafahim karya Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani