Beranda Tokoh Al Ghazali sang Hujjatul Islam

Al Ghazali sang Hujjatul Islam

205
0

Celoteh Filsafat – Al Ghazali dengan nama Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad at-Thusi Al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 H/1058 M di Thus dekat Masyhad, Khurasan dan meninggal pada 505 H/ 1111 M. Ayahnya bekerja sebagai seorang penenun wool (ghazzal) sehigga ia dijuluki Al-Ghazali. Julukan lain dari Al-Ghazali adalah Zainuddin (penghias agama).

Nama Al-Ghazali begitu populer di zamannya hingga sekarang, baik dikalangan akademis maupun mayarakat umum entah dunia Timur ataupun Barat. Kepopulerannya itu karena ia memiliki peran yang sangat besar dalam dunia pengetahuan. Tak diragukan lagi bahwa Al-Ghazali adalah salah satu pemikir besar Islam dan filsafat kemanusiaan, keberadaannya tidak jauh berbeda dengan pemikir lainnya di mana kehadiran mereka ditakdirkan untuk dijadikan ikon penggerak masyarakat dalam rangka perubahan dan penggerak baik berupa aqidah syariat dan praktiknya. Ia mampu meninggalkan hidupnya dari kesan kehidupan materi, budaya, sosial maupun politik.

Kaum muslim menempatkan Al-Ghazali pada posisi yang tinggi dalam hal ilmu dan amal. Dengan bukti bahwa ia memiliki gelar sebagai Hujjatul Islam yang tidak dimiliki oleh pemikir-pemikir lain. Selain itu ia dianggap sebagai agen perubahan pada abad kelima hijriyah. Gurunya Imam Al-Haramain juga berkata “Al-Ghazali adalah lautan tanpa tepi”. Sedangkan muridnya Yahya Imam Muhammad bin Yahya berkata “Al-Ghazali adalah Imam Syafi’i kedua”. Dan sedangkan ulama sezamannya Abu Hasan Abdul Ghifari Al-Farisi berkata bahwa Imam Al-Ghazali adalah Hujjatul Islam bagi kaum muslimin, yaitu imam dari para imamnya agama, pribadi yang tidak dilihat oleh mata dari tokok-tokoh selainnya baik lisan ucapan, kecerdasan maupun tabiatnya.

Ibnu An-Najjar berkata “Imam Ghazali adalah imam dari para fuqoha’, seorang Rabbani  di kalangan umat Islam, dan seorang dari ahli ijtihad di zamannya serta sebagai permata di setiap masanya”. Lebih dari itu, oleh mayoritas kaum muslimin Al-Ghazali dipandang sebagai salah seorang wali Allah dan memiliki derajat Shiddiqin. Pengakuan seperti ini sama seperti ungkapan sufi besar yaitu Abu Hasan as-Syadzili dan Abu al-Abbas al-Mursi. Al-Mursi mengatakan “saya menyaksikan bahwa Al-Ghazali memiliki status shiddiq yang agung.”

Seluruh pernyataan di atas dinukil oleh Al-Allamah at-Taj Ibnu as-Subki dalam kitabnya Thabaqat asy-Syafi’iyah. Yakni sebuah kitab yang diawali dengan menyebutkan sebagai berikut: Al-Ghazali adalah Hujjatul Islam dan pemberi hujjah tentang agama, yang telah mencapai Dar as-Salam (tempat tinggal yang damai), penghimpun ilmu yang berserakan yang berkemampuan tinggi dalam menjelaskan persoalan baik bersifat nash maupun gagasan.

Al-Hafidz Ibnu Katsir di dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah memberikan komentar “Al-Ghazali sangat jenius dalam berbagai disiplin ilmu dan memiliki karya yang tak terhitung. Dia termasuk orang yang paling cerdas dikalangan cendekiawan dalam setiap membahas sebuah masalah. Al-Ghazali telah menjadi seorang tuan di kala mudanya , sehingga ia diangkat menjadi dosen di Universitas an-Nidhamiyah, Baghdad pada saat umur tiga puluh empat tahun namun banyak ulama besar yang berguru kepadanya. Diantarany ialah Abu Abu al-Khitab dan Ibnu Aqil, keduanya tokoh di kalangan madzhab Hambali yang kemudian juga mengungkapkan kekagumannya dengan kefasihan bahasa dan keluasan ilmu pengetahuan Al-Ghazali.

Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa para penulis buku banyak mengutip kata-kata Al-Ghazali dalam karya-karya mereka. Ibnu al-Imad al-Hanbali dalam kitab Asy-Syadzarat  berkata “al-Imam Zainuddin (nama kehormatan Al-Ghazali) adalah Hujjatul Islam. Al-Ghazali juga salah seorang tokoh ilmu pengetahuan yang menulis karyanya dengan sepenuh hati dengan diilhami kecerdasan yang luar biasa bagaikan memiliki lautan ilmu.

 

dari buku: Al-Ghazali Antara Pro dan Kontra karya Dr.Y usuf Qardhawi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here