Pergolakan Filsafat Islam (2)

Ibnu Sina dengan idenya yang khas yang berusaha memadukan antara wahyu dan filsafat, kemudian ia juga berusaha menjabarkan ataupun memaparkan serta membuktikan terkait dengan konsep-konsep kenabian yakni dengan mengatakan bahwa kenabian adalah suatu hal yang dianggap lumrah yang dapat diterima dan dipahami secara akal. Dalam pandangan Ibnu Sina kenabian merupakan tingkat tertinggi dalam fase kemanuisaan dalam menghimpun suatu potensi pada taraf yang paling sempurna. Menurtunya untuk menempuh tingkat tertinggi tersebut ia mensyaratkan dalam tiga hal: kecerdasan intelektual, kesempurnaan imajinasi, dan kemampuan mengendalikan hal-hal yang berasal dari luar dirinya untuk tunduk dan taat. Ketika ketiganya tersebut telah diperoleh maka akan muncul kesadaran kenabian dan mendapatkan keterbukaan segudang pengetahuan secara langsung tanpa bantuan orang lain. Atas prestasi yang dicapainya, Ibnu Sina kemudian memperoleh gelar “Guru Utama”, selain gelarnya sebagai “Pangeran Para Dokter” karena jasa-jasanya dalam bidang kedokteran.

Namun periode setelah Ibnu Sina, filsafat mengalami fase kemunduran karena serangan Al-Ghazali (1058-1111 M) dengan karya yang menggemparkan “Tahafut al-Falasifa” dalam karya ini al-Ghazali merinci pokok persoalan filsafat kedalam 20 bagian, tiga diantaranya dapat mengantarkan pada tingkat kekufuran, yaitu masalah keqadiman alam, kebangkitan ruhani, dan ketidaktahuan Tuhan tergadap hal-hal yang partikular. Dalam penyerangan ini Al-Ghazali juga menyeret nama Al-Farabi dan Ibnu Sina. Namun dalam serangan terhadap filsafat tersebut lepas dari pengaruh dan jasanya yang begitu besar da nada beberapa hal yang harus dicermati. Pertama, Al-Ghazali sesungguhnya bukanlah menyerang filsafat secara keaeluruhan akan tetapi hanya pada bagian metafisika, yakni dalam pemikiran metafisika Al-Faribi dan Ibnu Sina yang neo-platonis. Sebab pada bagian-bagian yang lain Al-Ghazali tetap mengakui betapa pentingnya logika dan epistemologi, yang hal ini merupakan inti dari filsafat sendiri, yakni sebagai upaya pemahaman dan penjabaran ajaran-ajaran keagamaan. Bahkan Al-Ghazali dalam al-Mustasfha fi ‘Ulum al-Fiqh, sebuah kitab tentang kajian hukum, bahkan juga menggunakan epistemology filsafat, yaitu burhani, dengan tujuan untuk membumikan gagasannya tentang hukum.

Tentang tuduhan Al-Ghazali terhadap tiga persoalan yang dianggapnya dapat menyebabkan kekufuran teresbut sepenuhnya kurang tepat, sebab disini telah terjadi kesalahpahaman pendefinisian istilah-istilah yang digunakan antara filsuf dengan Al-Ghazali yang posisinya sebagai seorang teolog. Semisal tentang masalah alam itu qadim, alam qadim adalah karena alam tidak muncul dalam waktu tertentu, sebab apa yang disebut sebagai waktu atau zaman itu munculnya bersamaan dengan munculnya alam. Tak ada istilah waktu atau zaman sebelum munculnya alam. Jadi kebersamaan alam dengan waktu atau tidak didahuluinya alam dengan waktu tertentu inilah yang disebut sebagai qadim oleh para filsuf, dan keqadiman alam itu tidak sama dengan keqadiman Tuhan, karena Tuhan sendiri itu qadim dengan diriNYa sendiri tanpa bebarengan dengan ruang dan waktu. Sedangkan alam itu hanya berkaitan dengan waktu ataupun zaman sehingga keqadiman ini sifatnya temporal (hadits) berbeda jika dibandingkan dengan Tuhan.

Selanjutnya tuduhan yang dilancrkan Al-Ghazali terhadap Al-Farabi dan Ibnu Sina yang berkaitan dengan Aristoteles. Dalam kitab Al-Munqidz Al-Ghazali membagi pemikiran filsafat (Yunani) kedalam tiga bagian: materialisme, naturalisme, dan teisme. Kelompok materialism adalah kelompok yang mengingkari Sang Pencipta, serta beranggapan bahwa alam semesta itu wujud dengan sendirinya, dan golongan ini dianggap sebagai ateis atau tidak beragama. Hal semacam ini di tujukan pada filsuf Yunani kuno seperti Thales (625-546 SM), Anaximander (611-547 SM), Anaximenes (570-500 SM), dan Heraclitos (540-480 SM) yang dalam pandangannya bahwa alam semesta itu tersusun atas unsur alam itu sendiri yakni air, udara, api, dan tanah, bukan oleh sang pencipta. Kemudian golongan naturalism adalah mereka yang meyakini kekuatan material dan bahwa apa yang telah mati tidak akan dapat kembali sehingga tidak mungkin ada hari kebangkitan ataupun hari pembalasan. Hal semacam ini tampaknya ditujukan pada tokoh filsuf Yunani kuno Democritus (460-370 SM) dan para filsuf lonia yang hanya meyakini eksistensi material.

Kelompok teisme adalah para filsuf yang meyakini adanya Sang Pencipta seperti Socrates (469-399 SM), Plato (427-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM), dan termasuk juga Al-Farabi dan Ibnu Sina dari kalangan Muslim sendiri. Dan tuduhan terhadap kedua tokoh Muslim tersebut tidak semuanya tepat. Memang benar bahwa Al-Farabi banyak mengkaji dan mengembangkan pemikiran Aristoteles tetapi ia bukanlah pengikut yang setia. Pemikiran metafisikanya yang di anggap menyimpang oleh Al-Ghazali buikanlah uraian atau hal yang dikremnbangkan dari filsafat Aristoteles, tetapi berasal dari ajaran neo-platonisme yang di bangun oleh Plotinus (205-270 M). hal ini yang kemudian di kritik oleh Ibnu Rusyd (1126-1198 M) bahwa Al-Farabi telah menyimpang dari ajaran Aristoteles.

Menurut Nur Kholis Majid (1939-2005 M) kurang tepat klasifikasi atau penilaian Al-Ghazali tersebut bisa saja karena kurang cermatnya Al-Ghazali sendiri dalam menilai, ataupun juga karena kesalahan umum pada masa itu. Yaitu pengkajian para terhadap Aristoteles tidak dilakukan secara langsung melalui karyanya sendiri melainkan melalui penafsiran neo-platonisme sehingga apa yang diduga sebagai pemikiran Aristoteles sebenarnya telah tercampur oleh ide-ide neo-platonisme. Sedangkan kebesaran Al-Ghazali sebagai Hujjatul Islam telah berhasil menggerakkan kesadaran umat Muslim sehingga tanpa mengkaji kembali persoalan-persoalan tersebut secara teliti dan mereka ikut menyatakan perang dan anti terhadap filsafat.

Pemikiran filsafat selanjutnya muncul kembali dalam kancah pemikiran Islam pada masa Ibnu Rusyd (1126-1198 M) melalui karyanya “Tahafut al-Tahafut” Ibnu Rusyd berusaha mengangkat kembali pasca penyerangan Al-Ghazali, namun usaha ini kurang berhasil karena bantahan Ibnu Rusyd sifatnya Aristotelian sementara serangan Al-Ghazali bersifat neo-platonis. Meskipun demikian atas kegagalannya Ibnu Rusyd dalam membendung serangan Al-Ghazali, ia telah berjasa dalam perkembangan pemikiran filsafat.

Dalam bidang metafisika Ibn Rusyd memberikan wawasan baru pada taraf hubungan antara Tuhan dengan alam, bukan melalui teori emanasi seperti Al-farabi dan Ibnu Sina tetapi melalui teori gerak. Bahwa menurutnya berdasarkan teori Aristoteles bahwa semua benda itu pada prinsipnya diam, tetapi kenyataannya bergerak. Dan gerakan benda tersebut pastinya disebabkan oleh penggerak yang berasal dari luar dirinya sendiri, karena dirinya sendiri tidak mampu bergerak. Penggerak luar yang menggerakan suatu benda juga butuh penggerak lain di luar dirinya sendiri sehingga dia mampu menggerakkan benda lainnya. Dan seterusnya hingga penggerak akhir yang tidak bergerak. Itulah yang dalam Islam disebut Allah SWT Tuhan Sang Penggerak alam raya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.