Sejarah Perkembangan Al-Qur’an Pada Masa Rasulullah S.A.W

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Penulisan dan penghafalan Al-Qur’an

Pada zaman Rasulullah SAW dan pemerintahan Abu Bakar dan Umar, ayat-ayat Al-Quran belum dibukukan, karena umat Islam pada masa itu belum memerlukannya sebab Al-Qur’an pertama kali diturunkan di Jazirah Arab. umat Islam pada waktu itu adalah bangsa Arab asli sehingga mereka tidak memerlukan ilmu khusus terkait untuk memahami Al-Qur’an, karena bahasa Al-Qur’an adalah bahasa mereka sendiri dan mereka mengetahui sebab-sebab turunnya Al-Qur’an. Oleh karenanya jarang sekali sahabat yang bertanya kepada Nabi tentang maksud-maksud ayat.

Ayat Al-Qur’an tidak dikumpulkan atau dibukukan seperti sekarang ini karena disebabkan oleh beberapa faktor, maka ayat Al-Qur’an barulah mulai dikumpulkan atau dibukukan, yaitu dikumpulkan dalam satu mushaf.[1] Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Nabi hanya dilakukan melalui dua cara yakni dituliskan pada benda-benda seperti yang terbuat dari kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelepah kurma, tulang binatang dan lain-lain. Tulisan-tulisan dari benda-benda tersebut dikumpulkan untuk Nabi dan beberapa di antaranya menjadi koleksi para sahabat yang pandai baca tulis.[2]

Rasulullah SAW telah mengangkat para sahabat-sahabat terkemuka untuk menulis wahyu Al-Qur’an, yaitu: Ali, Muawiyah, Ubai bin K’ab dan Zaid bin Tsabit, jika ayat turun Nabi memerintahkan mereka untuk menulis dan menunjukan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan di dalam hati. Sebagian sahabat menuliskan Al-Qur’an yang turun itu atas kemauan sendiri, tanpa diperintahkan oleh Nabi.[3]

Allah menurunkan Al-Qur’an  kepada Nabi yang Ummi (tidak bisa baca-tulis) dan diutus di kalangan orang-orang yang Ummi. Karena itu perhatian Nabi hanyalah menghafal dan menghayati agar beliau dapat menguasai Al-Qur’an yang diturunkan. Rasulullah sangat menyukai wahyu, beliau senantiasa selalu merindukan turunnya wahyu-wahyu dari Allah kemudian menghafal dan memahaminya. Seperti yang dijanjikan Allah:

 

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (didadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya (al-Qiyamah: 17).

Proses turunnya Al-Qur’an terkadang hanya satu ayat dan kadang sampai sepuluh ayat atau lebih. Setiap kali ayat turun kemudian dihafal di dalam dada dan ditempatkan dalam hati. Pada dasarnya bangsa Arab memilik kecerdasan dan daya hafal yang kuat, karena umumnya mereka buta huruf.[4]

 

  1. Pengumpulan Al-Qur’an

Ali bin Abi Thalib merupakan sahabat yang pertama kali mengumpulkan Al-Qur’an pada masa Nabi atas perintah Nabi sendiri. Di kalangan Syi`ah menegaskan Ali bin Abi Thalib sebagai orang pertama yang mengumpulkan Al-Qur`an setelah wafatnya Nabi. Sumber-sumber Sunni juga mengungkapkan bahwa Sahabat Ali memiliki kumpulan Al-Qur`an. Di kalangan ortodoks Islam, pengumpulan Al Qur`an dapat dilakukan secara resmi pada masa pemerintahan Abu Bakar al- Shiddiq. Al Khatthabi berkata, “ Rasulullah tidak mengumpulkan Al-Qur`an dalam satu mushaf karena senantiasa menunggu ayat yang menghapus terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya Al-Qur’an dengan wafatnya Rasulullah maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaur Rasyidin sesuai dengan janji-Nya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya “.

Pada setiap kali Rasulullah menerima wahyu yang berupa ayat-ayat Al-Qur’an beliau membacakannya di hadapan para sahabat, kemudian para sahabat menghafalkan ayat-ayat tersebut sampai hafal di luar kepala. Namun kemudian beliau menyuruh kuttab (penulis wahyu) untuk menuliskan ayat-ayat yang baru diterimanya itu. Mereka yang masyhur ialah; Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khatab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zayd bin Tsabit, Az-Zubayr bin Awwam, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Al-arqam bin Maslamah, Muhammad bin Maslamah, Abban bin Sa’it bin AL-‘As, Maslamah bin Khalid, Qais bin Shasha’ah, Tamim Al-Dari, Salamah bin Makhlad, Abu Musa AL-Asy’ari, Uqbah bin Amir, Ummu faraqah binti Abdillah binti Harits.[5]

 

  1. Perkembangan Al-Qur’an

Pada masa Nabi ilmu-ilmu Al-Qur’an belum dibukukan, karena umat Islam belum memerlukannya serta ulumul quran masih belum ada, sebab pada waktu itu Rasulullah SAW masih hidup, sehingga jika terdapat suatu pertanyaan atau permasalahan mengenai al-Quran bisa ditanyakan langsung kepada Rasul kemudian diingat dalam pikiran dan hati para sahabat. Selain alasan di atas, belum adanya kebutuhan untuk menulis kitab-kitab tentang ulumul quran merupakan alasan di balik belum munculnya ulumul quran pada masa Nabi. Terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur’an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.

[1] Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’i, UlumulQur’an I,hlm.71-72.

[2] Departemen Agama Republik Indonesia, Muqaddimah Al-Qur’an dan Terjemahnya, PT. Karya Toha Putra; Semarang. 2002. Hlm.18

[3] Nur Kholis, Pengantar Studi Al-Qur’an dan Hadis,hlm.83.

[4] Ibid., hlm. 77-78.

[5] Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’i, UlumulQur’an I,hlm. 67-68.

Satu Balasan untuk “Sejarah Perkembangan Al-Qur’an Pada Masa Rasulullah S.A.W”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.